Feeds:
Pos
Komentar

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia melihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu’ sambil menangis.
Ketika orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?”
Maka berkata anak kecil itu, “Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naraa” yang bermaksud, ” Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkata orang tua itu, “Wahai nak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka.”
Berkata anak kecil itu, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”
Dari: Digital Library

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia melihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu’ sambil menangis.
Ketika orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?”
Maka berkata anak kecil itu, “Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa” yang bermaksud, ” Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkata orang tua itu, “Nak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka.”
Berkata anak kecil itu, “Kek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Lalu kakek itu berkata sambil menangis, “Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

PENDAHULUAN
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dewasa ini menempati posisi yang sangat fundamental dan strategis dalam penyiapan sumber daya yang unggul di masa depan. Melalui pendidikan ini, anak akan dirangsang untuk dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Menurut Gutama (2004:2), pendidikan bagi anak usia dini sangat penting dilakukan sebab merupakan dasar bagi pembentukan kepribadian manusia secara utuh, yaitu ditandai dengan karakter, budi pekerti luhur, pandai, dan terampil. Hal ini sejalan dengan pendapat ahli pendidikan anak bahwa pendidikan yang diberikan pada usia di bawah 8 tahun, bahkan sejak anak dalam kandungan adalah penting sekali.
Perhatian dunia terhadap PAUD pun semakin besar, ditandai dengan adanya berbagai deklarasi dan konvensi hak anak. Pada tataran nasional, telah dibentuk Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini pada tahun 2001 yang bertugas untuk menangani dan mensosialisasikan jenis pendidikan ini. Belum lagi peran serta masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM dan pemerhati masalah pendidikan anak yang semuanya ikut memperkuat eksistensi Pendidikan Anak Usia Dini. Pengakuan terhadap eksistensi PAUD ini diperkuat lagi secara khusus dalam Pasal 28 Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian, masih terdapat berbagai tantangan atau permasalahan mendasar yang harus ditangani dengan segera.
Gutama (2005:8), mengatakan bahwa tantangan utama dalam penyelenggaraan PAUD pada jalur pendidikan nonformal adalah: (1) masih rendahnya kesadaran masyarakat akan arti penting PAUD; (2) masih terbatasnya lembaga layanan pendidikan bagi anak usia dini terutama bagi anak-anak yang masih di bawah usia 4 tahun; (3) sangat terpencarnya keberadaan anak-anak usia dini yang harus dilayani terutama yang ada di daerah-daerah yang sulit dijangkau karena kendala geografis dan transportasi; (4) masih relatif terbatasnya dukungan anggaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah terhadap PAUD; (5) masih sangat terbatasnya tenaga pendidik dan kependidikan pada PAUD, baik secara kualitas maupun kuantitas; (6) belum adanya sistem yang menjamin keterpaduan dalam penanganan anak usia dini yang bersifat holistik; (7) masih terbatasnya jumlah perguruan tinggi yang memiliki jurusan khusus untuk pendidikan anak usia dini serta terbatasnya penelitian di bidang PAUD.
Sejalan dengan Gutama, Fasli Djalal (2003:15) mengatakan bahwa terdapat permasalahan mendasar mengenai PAUD di Indonesia, antara lain: masih rendahnya kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan sejak usia dini, belum adanya sistem yang menjamin keterpaduan dalam penanganan anak-anak usia dini secara holistik, masih minimnya ketersediaan prasarana dan sarana pendidikan bagi anak-anak usia dini terutama mereka yang berusia di bawah 4 tahun, masih terbatasnya jumlah perguruan tinggi yang memiliki jurusan khusus untuk PAUD, serta terbatasnya penelitian di bidang pendidikan dini. Sejak tahun 2003, baru Fakultas psikologi Universitas Indonesia (UI) dan Univesitas Negeri Jakarta (UNJ) yang ditunjuk untuk menangani program PAUD agar lebih memasyarakat dan memiliki tenaga edukasi tentang PAUD. Selain itu, di kalangan masyarakat atau LSM, ditunjuk Yayasan Al-Falah di Jakarta yang dinilai Direktorat PAUD dan konsultan asing yang berhasil menerapkan PAUD di komunitasnya.
Studi empiris menunjukkan bahwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2003, diperkirakan jumlah anak usia dini (0-6) tahun di Indonesia adalah 26,17 juta. Dari 13,50 juta anak usia (0-3) tahun, yang terlayani melalui layanan Bina Keluarga Balita sekitar 2,53 juta (18,74%). Sedangkan untuk anak (4-6) tahun dengan jumlah 12,67 juta, yang terlayani melalui Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), Kelompok Bermain (KB), dan Taman Penitipan Anak (TPA) sebanayak 4,63 juta (36, 54%). Artinya, baru sekitar 7,16 juta (27,36%) anak yang terlayani PAUD melalui program PAUD, sehingga dapat disimpulkan masih terdapat sekitar 19,01 juta (72,64%) anak usia dini yang belum terlayani PAUD.
Konsekuensi dari rendahnya tingkat partisipasi anak mengikuti pendidikan usia dini, berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurut laporan UNDP tentang Human Development Index (HDI) pada tahun 2005 Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara dan 111 pada tahun 2004, jauh di bawah Negara Asean lainnya seperti Malaysia (61), Philipina (84), Thailand (73). Bahkan peringkat Indonesia berada di bawah Vietnam, sebuah Negara yang baru bangkit darti porak poranda akibat perang berkepanjangan.

Rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia diikuti juga dengan terpuruknya kualitas pendidikan di segala bidang dan tingkatan. Berdasarkan hasil studi “kemampuan membaca” siswa tingkat SD yang dilaksanakan oleh International Educational Achievement (IEA), diketahui bawha siswa SD di Indonesia berada di urutan ke 38 dari 39 negara. Hasil penelitian The Third International Mathematics and Science Studi Repeat tahun 1999, kemampuan siswa Indonesia di bidang IPA berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti. Hal yang sama juga terjadi di bidang Matematika, di mana Indonesia berada di urutan ke-34 dari 38 negara yang diteliti.
Rendahnya kualitas pendidikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh inputnya, terutama calon siswa sebagai calon input. Rendahnya kualitas calon siswa didasarkan pada suatu kenyataan bahwa selama ini perhatian kita terhadap pendidikan bagi anak usia dini masih sangat minim, seperti terungkap dari piramida pendidikan Depdiknas tahun 1999/2000. Partisipasi pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini melalui pendirian TK di seluruh Indonesia hanya sekitar 255 buah (0,54%), 41.092 buah didirikan oleh pihak swasta (99,46%). Jumlah TK yang sudah berdiri sangatlah berimbang dengan jumlah anak yang seharusnya mengikuti pendidikan di tingkat tersebut. Keterbatasan jumlah ini ditambah dengan tidak meratanya penyebaran TK (pertumbuhan TK di perkotaan lebih pesat dibandingkan dengan di pedesaan).

Hakekat Anak Usia Dini
Ada dua pendapat tentang batasan anak usia dini yaitu (1) sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas anak usia dini adalah manusia yang berumur antara 0 sampai dengan 6 tahun. Sedangkan (2) menurut para ahli dalam pendidikan anak usia dini adalah kelompok manusia yang berumur antara 0 sampai dengan 8 tahun.
Berdasarkan pada batasan usia sebagaimana telah disebutkan di atas, anak usia dini dapat di kelompokkan menjadi: (1) masa bayi, yaitu usia lahir sampai 12 bulan; (2) masa toddler (batita) yaitu usia 1 sampai dengan tiga tahun; (3) dan masa pra sekolah yaitu usia 3 sampai dengan 6 tahun. Sedangkan menurut pakar tahapan ini ditambah dengan satu tahapan lagi yaitu (4) masa kelas awal Sekolah Dasar yaitu antara usia 6 sampai dengan 8 tahun.
Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga 6 tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik, dan nonfisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal pikiran, emosional, dan seosial yang tepat dan benar agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Adapun upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan kesempatan-kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif. Dengan demikian hakekat Pendidikan Anak Usia Dini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a. Pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan ketrampilan pada anak.
b. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan keerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi.
c. Sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Sedangkan Pendidikan Anak Usia Dini setidaknya mempunyai dua tujuan; yaitu tujuan utama dan tujuan penyerta. Tujuan utama dilaksanakannya Pendidikan Anak Usia Dini adalah untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasanya. Karena itu utjuan utama Pendidikan Anak Usia Dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sedini mungkin yang meliputi aspek fisik, psikis, dan sodial secara menyeluruh yang merupakan hak anak. Dengan pertumbuhan dan perkembangan itu, anak diharapkan lebih siap untuk belajar lebih lanjut, bukan hanya belajar (akademik di sekolah), melainkan belajar sosial, emosional, moral, dan lain-lain pada lingkungan sosial. Jadi itulah tujuan utamanya (primary goal).
Adapun tujuan penyerta (naturing goal) Pendidikan Anak Usia Dini membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah. Karena itu menempatkan tujuan penyerta di atas segalanya mengandung resiko terhadap terjadinya praktik-praktik keliru yang terlalu berbobot akademik pada Pendidikan Anak Usia Dini, seperti terbukti pada TK dan RA selama ini.

Urgensi Pendidikan Anak Usia Dini
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah sangat penting. Selain itu Pendidikan Anak Usia Dini itu penting karena hal-hal berikut ini:
a. Dalam dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah penentu kehidupan di masa mendatang. Di tangannyalah kehidupan berbangsa dan bernegara berada, Pembentukan karakter bangsa dan sumber daya manusia ditentukan oleh bagaimana memperlakukan yang tepat kepada mereka sedini mungkin.
b. Usia sejak kelahiran sampai dengan 8 tahun merupakan usia yang sangat kritis bagi perkembangan semua anak, tanpa memandang dari suku, budaya dan agama manapun anak itu berasal. Stimulasi yang diberikan kepada anak usia dini akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan anak serta sikap dan perilaku sepanjang rentang kehidupannya.
c. Penelitian menunjukkan bahwa sejak anak lahir memiliki kurang lebih 100 miliar sel otak. Sel-sel saraf ini harus rutin diberikan stimulasi dan didayagunakan agar terus berkembang jumlahnya. Jika tidak, jumlah sel tersebut akan terus berkurang yang berdampak pada pengikisan segenap potensi kecerdasan anak.

Kesimpulan
Dari uraian di atas kiranya dapat diambil beberapa kesimpualan; di antaranya adalah:
1. Bangsa Indonesia harus segera mengejar ketertinggalannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia dalam berbagai aspeknya, terutama dalam bidang pendidikan yang selama ini mendapatkan urutan yang kurang signifikan bahkan dengan negara-negara yang jauh lebih muda usia kemerdekaannya.
2. Pendidikan tersebut mencakup pendidikan kepada anak dalam rentang usia 0 sampai 8 tahun. Hal ini sangat penting dilakukan karena dalam usia inilah yang menjadi penentu keberhasilah anak di masa-masa sesudahnya.
3. Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan pada anak usia dini harus selalu ditingkatkan, tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh segenap lembaga kemasyarakatan dan juga semua unsur masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat menjalin keterpaduan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat bangsa. Karena pendidikan pada anak usia dini akan menjadi fondasi yang kokoh terhadap perkembangan anak bangsa dan bisa menghantarkan mereka untuk membangun bangsa ini ke arah yang lebih kompetititif.
4. Lembaga pendidikan tinggi juga harus bertanggung jawab atas terlaksananya program pendidikan ini. Lembaga pendidikan tinggi berkewajiban untuk memproduk calon-calon pendidik usia dini yang handal, yang mampu memberikan pembinaan dan pencerahan kepada tunas-tunas bangsa.
5. Menjalankan pendidikan pada anak usia dini juga sekaligus mengemban amanat dari Tuhan sebagai suatu yang harus diemban dan dilaksanakan sebaik mungkin sebagai bentuk dari pengabdian manusia terhadap bangsa, negara, dan agamanya.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat PADU (2002). Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidkan Anak Dini Usia (Menu Pembelajaran Generik). Jakarta: Direktoran Padu

Hapidin. 2006. Model-Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Ghiyats Alfiani Press.

Jalal, Fasli. ”Pendidikan Anak Dini Usia, Pendidikan yang Mendasar”. Buletin PADU (Jurnal Ilmiah, Edisi Perdana). Jakarta: Direktorat PADU

Jalal, Fasli. 2005. ”Kebijakan Pemerintah Tentang Pendidikan Anak Dini Usia (PADU)”. Makalah Disampaikan dalam ”Seminar Pendidikan Anak Dini Usia” di UHAMKA. Jakarta.

Rahman, Arif. 2005. ”Pengembangan Multiple Intelegences Anak Usia TK”. Makalah Disampaikan dalam ”Seminar Pendidikan Anak Dini Usia” di UHAMKA. Jakarta

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Lembaran Negara Republik Indonesia No. 78, 2003

  • Lanjut Baca »

    Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, dceritakan pada suatu hari ada seorang telah datang bertemu dengan Rasulullah S.A.W. kerana hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata :
    “Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu sahaja berbuat dosa dan susah untuk meninggalkannya.” Maka Rasulullah menjawab : “Mahukah engkau berjanji bahwa engkau sanggup untuk tidak berkata bohong?”
    “Ya, saya berjanji” jawab lelaki itu singkat. Setelah itu, dia pun pulang ke rumahnya dan berkata dalam haritanya: “Alangkah mudahnya apa yang diminta oleh Rasul”.
    Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi dan meminum minuman keras. Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia sedaya upaya untuk meninggalkan segala keburukan itu. Sebab itulah dia meminta nasihat dari Rasulullah S.A.W.
    Maka setiap kali hatinya terdorong untuk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejek. “Berani engkau berbuat jahat. Apakah jawaban kamu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah. Sanggupkah engkau berbohong kepadanya” bisik hati kecil. Setiap kali dia berniat hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah S.A.W. dan setiap kali pulalah hatinya berkata :
    “Kalau aku berbohong kepada Rasulullah bererti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku bercakap benar bererti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam. Oh Tuhan….sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah itu terkandung sebuah hikmah yang sangat berharga.”
    Setelah dia berjuang dengan hawa nafsunya itu, akhirnya lelaki itu sukses dalam perjuangannya menentang kehendak nalurinya. Menurut hadis itu lagi, sejak dari hari itu bermula babak baru dalam hidupnya. Dia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup seperti yang digariskan oleh Rasulullah S.A.W. Hingga ke akhirnya dia telah berubah menjadi mukmin yang saleh dan mulia.

    Author: Dina Sualeman, Dari Dilibrary
    Seringkali, orang tua merasa bahwa sikap jujur hanya kewajiban anak. Ketika anak menumpahkan susu coklat di karpet, karena takut, ia mungkin akan berkata, “Bukan saya, Mama!” Lalu, orangtua akan marah dan membentak, “Jangan bohong!” Tapi, tanpa sadar, orangtua pun sering membohongi anak. Bila kita lelah saat si Putri mengajak bermain ke taman, orangtua dengan enteng, “Besok, ya sayang!” Tapi, esok hari, apa yang terjadi?
    Seringkali orangtua melupakan janji itu begitu saja.
    BOHONG ADALAH SALAH SATU AKIBAT DARI SIKAP PEMARAH ORANG TUA. Namun, bisa jadi pula, ANAK SUKA BERBOHONG KARENA MENIRUKAN ORANGTUANYA YANG JUGA SERING TIDAK JUJUR TERHADAPNYA.
    Karena itu, dalam artikel ini kami akan membahas mengenai dua sifat yang harus dipegang teguh oleh orang tua, yaitu jujur dan lembut.
    SIKAP JUJUR
    Abdul Hamid Jasim Al-Bilali dalm bukunya “Seni Mendidik Anak” menyebutkan, “Penyebab kenakalan anak (termasuk di antaranya berbohong) adalah karena contoh yang buruk. Menurut Al-Bilali, “SEORANG ANAK TENTU TIDAK MUDAH MENERIMA ANJURAN KEBAIKAN DARI ORANGTUANYA JIKA TERNYATA PERBUATAN ORANG TUA MEREKA SENDIRI BERTOLAK BELAKANG DARI APA YANG DIPERINTAHKAN. Anak disuruh berkata jujur, tetapi mereka sendiri sering berdusta dan jika berjanji tidak ditepati.”
    Allah berfirman dalam surat Ash-Shaf, “Sungguh besar dosanya di sisi Allah bahwa kalian berbicara apa yang tidak kalian lakukan.”
    Ada kalanya, orang tua memang tidak marah menghadapi “kenakalan” anaknya, tapi, malah menggunakan kebohongan. Hal ini sama-sama berdampak buruk. Sering kita dengar orangtua melarang anaknya ribut dengan berbohong, “Heh, jangan ribut, nanti ditangkap hantu lho!” Hal ini malah akan membuat anak menjadi penakut dan sekaligus mengajarinya berbohong. Bila anak ribut, sebaiknya Anda mengalihkan perhatiannya dengan mengajak menggambar atau membacakannya dongeng.
    SIKAP LEMBUT
    Sikap lembut terkadang amat sulit dipertahankan oleh orangtua. Anak kecil umumnya melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan orang dewasa adalah “nakal”. Namun, ADA POIN PENTING YANG HARUS DIPAHAMI OLEH ORANG TUA, YAITU SESUNGGUHNYA, ANAK KECIL TIDAK PERNAH BERMAKSUD UNTUK BERBUAT NAKAL. Dia bahkan tidak memahami konsep nakal itu sendiri. Apapun yang dia lakukan adalah sesuai dengan kemampuan
    nalarnya pada saat itu. Bila ia menumpahkan susu di karpet, itu bukanlah kesengajaan karena ingin membuat Anda repot mencuci karpet, melainkan karena koordinasi tangannya yang belum stabil.
    Bila ia merusakkan mainannya, itu lebih karena keinginatahuannya. Bila ia bermain-main dengan pot kesayangan Anda dan akhirnya pecah, itu bukanlah karena sengaja ingin membuat Anda marah. BAGI ANAK KECIL, BERMAIN ADALAH PROSES BELAJAR. Ia akan belajar memahami bahwa barang kaca akan pecah bila dibanting.
    Rasulullah SAW bersabda, “Hobi, permainan dan kelincahan gerak seorang anak pada waktu kecil, akan mempertajam pemikirannya ketika dewasa.” (HR At-Tirmidzi).
    Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya ‘Ulumuddin juz V bab Mengobati Penyakit Hati, “Hendaknya anak kecil diberi kesempatan bermain. Melarangnya bermain dan menyibukkannya dengan belajar terus akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya, dan membuatnya jemu terhadap hidup, sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek itu.”
    Menurut Ma’ruf Zurayk, guru besar pendidikan dan Psikologi Univ. Darul Mu’minin Damaskus, PENDIDIKAN ANAK YANG DILAKUKAN DENGAN BENTUK YANG KERAS DAN KAKU MENGAKIBATKAN PERASAAN TERTEKAN, HANCURNYA KEPRIBADIAN, DAN TIDAK ADANYA KESEMPATAN UNTUK MENGUNGKAPKAN KEPRIBADIAN ANAK.
    Inilah hal-hal yang menyebabkan anak menggunakan kebohongan sebagai sarana, yang dengan jalan itu, ia memperoleh tempat yang dianggap baik dan dikagumi bagi kedua orangtuanya. Menurut Zurayk, TERKADANG ANAK
    JUGA BERBOHONG KARENA TAKUT HUKUMAN YANG DIJATUHKAN KEPADANYA, ATAU HANYA KARENA SEKEDAR KESENANGAN YANG TIMBUL DARI SIKAP MENENTANG TERHADAP KEKUASAAN YANG KERAS ORANGTUANYA.
    Matthew McKay PhD telah menghabiskan waktu dua tahun untuk meneliti perilaku marah orang tua dan efeknya terhadap anak-anak. Dia menemukan bahwa 2/3 orangtua (dari 285 orang tua yang diteliti) mengungkapkan rasa marah kepada anak dengan berteriak dan membentak rata-rata 5 kali seminggu. Artinya, hampir setiap hari anak-anak menerima bentakan dari orangtuanya. Menurut McKay, “Bila Anda membentak anak hampir setiap hari, anak akan terluka hatinya. Bila hanya sekali seminggu atau sekali sebulan, anak tidak akan merasakan adanya serangan psikis terhadap dirinya.”
    Daripada Anda menghabiskan energi untuk marah dan akan berdampak negatif pada psikologis Anak, lebih baik Anda melakukan perbuatan preventif, misalnya, jangan meletakkan barang pecah belah di tempat yang terjangkau oleh anak. Atau, selagi anak masih kecil, Anda tidak perlu memasang karpet atau permadani mahal di lantai yang memerlukan tenaga ekstra untuk membersihkannya.
    Sebaiknya pula, orangtua menghindari kata-kata yang bersifat larangan.
    PERTAMA, karena akan membuat anak sulit menentukan alternatif tindakan. Misalnya, ketika ia berteriak-teriak, kita akan membentak, “Sst diam, jangan teriak!” Lalu, dia akan melakukan kegiatan lain, seperti memukul meja. Bila kembali kita larang, anak akan bingung, “Apa yang harus aku lakukan? Ini jangan, itu jangan.”
    KEDUA, larangan (apalagi yang disertai bentakan dan marah) akan membuat anak kehilangan kreativitasnya. Adalah naif bila orang tua melarang anak merusak mainannya yang hanya berharga sepuluh ribu perak tapi menebusnya dengan kematian kreativitas yang merupakan bekal utama anak untuk hidup di masa depan.
    Tulisan ini akan kami akhiri dengan hadis Rasulullah, “Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” Ayah dan ibu adalah pemimpin anak-anak mereka dan kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Karena itu, bersikap jujur dan lembutlah kepada anak!

    Menangis

    Oleh : Mustofa
    “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang yang Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dan menangis.’ (QS Maryam: 58)
    Menangis, sebuah aktifitas yang pertama kali kita lakukan ketika kita dilahirkan –seiring dengan berpindahnya kita dari alam kandungan ke alam dunia. Kita sudah tidak ingat lagi ‘peristiwa penting’ itu. Sejak kecil tak terhitung sudah berapa kali kita manangis. Menangis merupakan ungkapan kesedihan dan bisa pula sebaliknya, merupakan ungkapan kebahagiaan. Menangis adalah naluri, fitrah manusia yang sekaligus nikmat dari Allah SWT. Ada orang yang gampang sekali menangis.
    Perasaannya sangat sensitif dengan keadaan sekitarnya. Menangis ketika harus berppisah dengan orang yang dicintai, menangis ketika mendengar cerita atau berita yang menyedihkan, menagis tatkala melihat kesengsaraan hidup orang lain. Sebaliknya, Ada orang yang air matanya susah keluar dari kelopak matanya. Kalaupun harus bersedih karena ditinggal seorang yang ia cintai, tapi ia tidak sampai menangis. Bukan karena tidak merasa kehilangan, tetapi karena ia memang susah menangis.
    Hatinya tidak sepeka golongan sebelumnya. Adapula yang tidak bisa menangis karena memang hatinya keras membaja walaupun ditimpa musibah apapun.
    Ketika persiapan perang Tabuk tengah digelar, ada tangisan istimewa yang tidak lazim dari kebiasaan manusia pada umumnya.. Perang menghadapi tentara kuat Romawi yang berlangsung saat musim panas ini memaksa setiap sahabat yang ikut untuk memiliki kendaraan masing-masing. Sebab, jarak yang begitu jauh, untuk berjalan kaki rasanya tak mungkin.. Di antara kaum miskin yang tak punya tunggangan itulah muncul tangisan sesal.
    Segolongan sahabat Rasul (menurut riwayat lain 7 golongan) pimpinan Abdullah Al-muzani terpaksa kembali karena Rasulullah menyatakan tidak berhasil membantu memberi mereka tunggangan. Allah telah mengabadikan tangisan istimewa itu dalam firmannya di Surah at-Taubah: 92: ‘Dan tidak ada dosa atas orang-orang yang datang kepadamu supaya kamu beri kendaraan lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kamu.’ Mereka kembali sedang mata mereka melelehkan air mata karena kesedihan, karena mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan.’ (QS at-Taubah: 92) (riwayat selengkapnya silahkan merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir II/402).
    Tangis mereka ini tentu bukan sembarang tangis. Ini tangisan langka. .
    Di tengah banyaknya orang minta izin tidak ikut berperang dengan berbagai alasan (QS At-taubah: 81), justru mereka bersedih karena tidak bisa bergabung dengan pasukan Islam. Di saat banyak orang takut mati (QS. Ali Imran: 167-168), mereka malah menyesal kehilangan kesempatan untuk mati. Bagi mereka, perang memang bukan momok yang menyeramkan, justru inilah cita-cita tertinggi mereka, syahid di jalan-Nya.
    Tangisan iman tidak sama dengan tangisan cengeng. Tangis iman itu terjadi ketika seorang hamba sangat merindukan pertemuan dengan Allah SWT, tangisan pada saat kehilangan kesempatan menjalankan perintah agama. Sedangkan tangisan cengeng terjadi ketika seseorang kehilangan harta yang dicintainya. Allah amat menyukai jenis tangisan yang pertama dan tidak terhadap yang kedua.
    Selain tangis karena rindu, ada juga tangis karena khusyu’nya hati dalam dzikir kepada Allah. Tangis seperti ini banyak dibahas dalam al-Qur’an maupun sunnah. Tangisan ini tentu saja tidak bisa direkayasa, karena lahir dari pikiran yang bersih dan hati yang bening. Kedudukannya sama dengan tangis iman di atas. Ketika menjelaskan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan besar dan menjadi orang-orang yang terpilih, Allah menyebut mereka sebagai orang yang senantiasa bersujud dan menangis. Allah berfirman, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang yang Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih.
    Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dan menangis.’ (QS Maryam: 58). ‘Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS al-Israa: 109)
    Ada pula tangis bahagia. Tangis jenis ini lahir di saat suasana bahagia yang diselimuti rasa haru, ketika berjumpa dengan orang-orang tercinta, berkumpul bersama keluarga dalam suasana hari raya, ketika mendapatkan nikmat besar, kemenangan dalam suatu perjuangan (baca: pertandingan), dan lain sebagainya.
    Ada juga tangis ikut-ikutan, milik orang yang hanya bisa menangis ketika orang-orang di sekelilingnya menangis. Ia tidak bisa menangis ketika sendirian, melainkan ia bisa menangis kalau bersamaan dengan suatu jamaah, di dalam sholat, istighatsah, muhasabah, mendengarkan bersama tilawah, dsb. Terkadang ia tidak tahu maksud dan arti bacaan sang imam, ia hanya terharu mendengar ‘nada tinggi’ sang imam dan tangisan jamaah yang lain. Pada dasarnya ia menangisi (baca: menangis karena) tetangganya. Yang terakhir, ada tangisan palsu. Ia mencucurkan air matanya bukan karena Allah melainkan karena manusia, agar mereka menyangka bahwa ia adalah orang yang khusyu’ dalam sholat, tilawah dan do’anya, orang yang mudah tergugah dengan ayat-ayat-Nya. Sungguh rugi orang yang demikian, menyangka tangisannya berbuah surga, malah sebaliknya mendapatkan murka. Para ustadz, huffadz, qari’, imam sholat dan pemimpin muhasabah adalah kelompok yang paling rawan dihinggapi penyakit ini jika tidak berhati-hati.
    Setiap malam Jum’at kita sering menyaksikan diri dan sahabat-sahabat sekeliling kita menangis ketika dilangsungkan tadabbur ayat, muhasabah atau qiyamul-lail. Hampir semua yang hadir menangis baik dengan hanya sedikit mengeluarkan air mata, tersedu-sedu hingga isakan yang teramat keras. Maka, sebuah pertanyaan penting yang harus kita jawab dengan jujur, termasuk jenis yang manakah tangisan kita itu? Wallahu a’lam.

    Bagi mahasiswa semester satu yang mengikuti mata kuliah Bahasa Arab I, dapat mengunduh materi sebagai berikut:
    Bahasa Arab